Minggu, 26 Juni 2011

:)

Aku akan selalu berusaha membuat mu
tersenyum bahagia, aku akan selalu menghiburmu disaat dirimu merasakan kesedihan. hanya satu permintaan ku pada mu, “tetaplah menjadi bagian yang tak akan pernah terpisah kan dari perjalanan hidup ku, meski pun ku telah banyak membuat mu kecewa, tapi hanya dirimu yang mampu meredam segala keangkuhan hati ku

Kamis, 23 Juni 2011

KEADILAN

Mimpi Buruk bagi Penjahat


KEADILAN seharusnya ditegakkan secara absolut. Semua kejahatan harus diganjar hukuman setimpal. Nyatanya, tangan-tangan keadilan terkadang tak berdaya di hadapan kekuatan politis dan uang. Akibatnya, para kriminalis bisa menikmati kebebasan dan tertawa dari balik kegelapan sementara korban mereka meratapi nasib.
Di situlah para Code: Breakers ambil bagian. Unit khusus yang dikendalikan oleh organisasi elite Eden itu bertugas "menghakimi" para kriminal yang sudah jelas bersalah, tapi lolos dari jerat hukum. Dari balik bayangan, para Code: Breakers melindungi masyarakat. Tanpa tanda jasa, tanpa pengakuan publik atas hasil kerja mereka. Eksistensi para Code: Breakers tak terendus masyarakat karena mereka tak pernah meninggalkan jejak di lokasi "penghakiman".
Prinsip "penghakiman" mereka pun berada di garis keras: mata untuk mata, gigi untuk gigi. Dengan kata lain, nyawa ditebus nyawa. Tak ada ampun bagi para kriminalis yang bernasib sial dan masuk daftar buruan Code: Breakers.

Selasa, 21 Juni 2011

Bocah pembeli Es Krim

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju
ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa
melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar
bingar mal yang serba wangi dan indah.


“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.


“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.


Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di
tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar.
Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” ngantre di belakang pembeli ingusan itu.


“Kalau plain cream berapa?”


Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”.


Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, ” Kalau begitu saya mau sepiring plain cream
saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si
pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.


Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah
ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia
terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping
recehan seratusan yang tersusun rapi.


Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya
bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi
dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.


Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di
mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan
penuh hormat.

Andai saja, kamu percaya padaku

Sulit benar membangun kepercayaan, walau untuk hal-hal yang sederhana sekalipun. Ini
kisahku dalam perjalanan tempo hari. Soal lampu rem misalnya. Jika ia menyala, pasti
ada ada hambatan di depan. Maka sudah sepantasnya, si belakang mengikuti si depan
karena depanlah yang tengah menjadi imam, melihat dengan mata kepala sendiri apa
yang terjadi di depannya.


Tapi karena tidak dipercayai, maka otoritas ini sering dianggap sepi. Saat itu, akulah yang
mestinya paling berhak untuk mengerti bahwa di depan ada becak yang sarat muatan
hendak menyeberang. Biarlah ia lewat. Kalau ia harus berhenti dan menggejot dari awal
lagi, tentu merepotkan.


Tapi keputusanku ini ternyata membuat mobil di belakang itu tidak senang. Baru saja aku
menginjak rem, klaksonnya sudah menyalak galak bertubi-tubi. Tapi keputusan telah
ditetapkan, dan abang becak telah mengambil jalan. Si mobil belakang ini juga telah
membulatkan hati, dia memilih menyalipku daripada ikut berhenti. Maka yang terjadi
terjadilah.


Ia begitu terkejut, hampir mati ketika becak itu muncul begitu saja di moncong mobilnya.
Ia menginjak rem hingga berdecit. Tabrakan keras memang tidak terjadi tapi sekedar
ciuman bumper pun telah membuat sang becak terguling. Muatan sayuran yang
menggunung berhamburan memenuhi jalan. Kecelakaan itu tidak mengerikan,tetapi
sayuran yang bertebaran benar-benar telah menjadi provokasi tersendiri.


Jalanan macet seketika. Si penyalip mobilku pucat pasi. Ia seorang pria, tampak
terpelajar; tapi saat itu ia berubah menjadi orang yang kelihatan bodoh. Posisi mobilnya
secara mencolok memperlihatkan bahwa dialah biang keladi kemacetan ini. Semua pihak
kini menudingnya. Dan abang becak yang terkapar itu, entah belajar teori drama dari
mana, mulai membangun sensasi. Ia membiarkan saja becaknya terjungkal. Ia sendiri
dengan ketenangan seorang jagoan, memilih bangkit dan berjalan menghampiri si pria
pengemudi dan langsung meninjunya.


Cerita selanjutnya bukan urusanku lagi. Tapi tak sulit merekonstruksi akhir insiden ini.
Betapa tidak enak membayangkan perasaan pengemudi mobil tadi. Seorang yang tampak
terpelajar, bertampang bersih, tapi cuma jadi bahan olok-olok lingkungan dan dipukuli
seperti kriminal. Padahal, jika saja ia mau sedikit bersabar, dan terpenting, mau
mempercayaiku untuk ikut berhenti, musibah ini mungkin tidak akan terjadi.


Seperti itulah keadaan di negeriku, orang lain tak pernah dibiarkan menjadi imam, walau
ia memang tengah memegang otoritas yang sesungguhnya. Selalu saja ada intervensi.


Inilah mengapa kita selalu cenderung membunyikan klakson di saat kita dalam
kemacetan. Mengapa dalam hal antri, leher kita cenderung terjulur demikian panjang
untuk selalu gatal melihat keadaan di depan.


Kita selalu ingin tergesa-gesa, tidak punya kesabaran sedikitpun. Padahal di depan itu
sering tidak terjadi apa-apa. Kemacetan itu masih baik-baik saja. Sekeras apapun klakson
yang kita bunyikan, tidak akan mengubah situasi jika saatnya belum tiba. Pada gilirannya,


antrian pun pasti akan bergerak maju dengan caranya sendiri. Jika semuanya masih
terhenti, pasti karena masih ada persoalan. Biarlah itu persoalan yang di depan. Kita di
belakang, tinggal mempercayainya.


Berat memang, tapi inilah ongkos hidup bersama. Harus ada semacam tebusan sebagai
ongkos kepercayaan. Ketidaksabaran membayar ongkos inilah yang membuat hidup
bermasyarakat sering dilanda kekacauan. Para imam, pemimpin, dan pihak yang di depan
itu, memang bisa saja menyelewengkan kepercayaan. Kita boleh kecewa tapi tak perlu
mendendam. Karena untuk hidup bersama, manusia memang perlu saling mempercayai.
Soal bahwa sesekali kita tertipu, tidak usah diherankan pula. Siapa yang sama sekali bisa
membebaskan diri dari nasib sial Rasanya tak ada.


Maka andai saja saat itu engkau percaya padaku, engkau pasti tidak dipermalukan
sedemikian rupa.

Jumat, 17 Juni 2011

Teman

Teman ,


Kita semua punya kekurangan, tapi untuk menjadi teman sejati butuh orang yang istimewa. Kamu, adalah satu dari orang-orang yang punya keistimewaan itu. Aku merasa terhormat dapat memanggilmu temanku.


Terdapat ikatan yang tak dapat diputuskan di antara kita. Aku kan melindungi dan berdiri di sampingmu apapun yang terjadi. Aku takkan mengecewakanmu. Aku kan di sana untuk berbagi kebahagiaanmu, aku kan di sana untuk menghiburmu di saat duka.


Temanku, aku mencintaimu. Tak ada seorang pun di hidupku ini yang menyerupaimu. Tak ada orang lain yang dapat kuceritakan rahasiaku atau menelanjangi hatiku. Di bumi ini, tak ada yang lain yang dapat kupercaya seperti aku mempercayaimu. Aku ingin kamu tahu sebenar-benarnya bahwa kepercayaanku kuberikan padamu.


Yang selalu kan menjadi temanmu,

Kau Tembus Hatiku

Cintaku,


Aku ingat ketika aku melihat dunia ini melalui mata butaku yang berlinang air mata. Lalu aku dirikan benteng di sekitarku. Aku pikir tidak ada yang dapat menembus rintanganku.


Tapi kamu datang menembusnya. Kau tunjukkan padaku hidup yang berbeda; pentingnya menjadi diriku sendiri, berbagi emosi, dan memberikan rasa cinta. Kamu membuatku berpikir. Kau membuatku dapat menghadapi diriku sendiri, menghadapi orang lain, menghadapi kamu. Kau membuatku jatuh cinta padamu.


Cinta denganmu sangatlah indah. Tak ada seorangpun yang bisa mencintaimu melebihi aku. Tak ada pelukan lain yang dapat menghangatkanku bagaikan sinar mentari. Ku kan lakukan apapun untukmu. Kamu sudah tahu itu semua ketika kau berikan seluruh hatimu untukku.


Simpan hatiku untuk selamanya,

Kasih Ibu

Konon di Jepang pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan, mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak2nya.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya kehutan, karena si ibu telah lumpuh dan mulai pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya tsb. Si ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya dan mematahkanny kemudian menaburkanny disepanjang jalan yang mereka lalui.
Sesampai didalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia juga tdk menyangka sanggup melakukan perbuatan ini.
Justru si ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata "Anakku, aku sangat menyayangimu. Dari kau kecil sampai dewasa aku selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi aku sudah menandai sepanjang jalan yang kita lewati dengan ranting2 kayu. Aku takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah."
Demi mendengar kata2 tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendonya untuk membawa si ibu pulang kerumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat ibu yang sangat mengasihinya tersebut sampai si ibu meninggal.
Pesan moral: orang tua bukan barang rongsokan yang bisa buang atau diabaikan setelah terlihat tdk berdaya. Sekalipun engkau sudah sukses atau sekalipun engkau susah hanya orangtua kita yg selalu mendampingi kita, bukan pacar, suami, istri, teman dll tp orang tua kita yg selalu tak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita & bagaimanapun kurang ajarnya kita kepada orang tua, bapak ibu kita tetap mengasihi kita. Mulai sekarang mari kita mengasihi ortu kita selagi mereka masih hidup.:)

Cinta nenek


Seorang nenek yang sangat mencintai cucunya melihat cucunya sedang bersedih hati karena masalah di sekolah. Ia kemudian duduk disebelah cucunya dan menasihati cucunya:


"Nenek harap km bakal spt pensil ini ketika km besar nanti. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yg bisa membuatmu selalu tenang dlm menjalani hidup, kalau km selalu memegang prinsip-prinsip itu di dlm hidup ini."


Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.


"Kualitas pertama, pensil mengingatkan km kalau km bisa berbuat hal yg hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, km jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dlm hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya."


"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan utk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan km, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yg akan membuatmu menjadi orang yg lebih baik."


"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dlm hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar."


"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dlm sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah menyadari hal-hal di dalam dirimu. Instropeksi diri & jgn menyalahkan org lain terlebih dahulu."


"Kualitas kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Spt juga km, km harus sadar kalau apapun yg km perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan agar tdk menyakiti org lain." :)


Sambil memeluk neneknya, cucu itu pun menangis dan berjanji untuk bisa seperti pensil.

MAAFKAN AKU


Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.

Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.

Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.

Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Adaapa nona?” Tanya si pemilik kedai.

“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,…

ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”

“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata

“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tsb.

“Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”

Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.

Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

Template by:

Free Blog Templates